Jual Sisik dan Lidah Trenggiling Dituntut 2 Tahun Penjara

0
14

MEDAN,(media24jam.com)-Henri Donald Siregar (39) terdakwa perkara jual beli sisik dan lidah Trenggiling dituntut Jaksa Penuntut Umum( JPU)) 2 tahun penjara denda Rp 20 juta subsider 3 bulan Selasa (22/11/22).

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Liani Elisa Pinem dalam nota tuntutannya menjelaskan,perbuatan terdakwa  melanggar pasal UU Nomor 5 Tahun 1990 tanggal 10 Agustus 1990, tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Dalam pertimbangannya, Jaksa mempertimbangkan hal yang memberatkan bahwa perbuatan terdakwa merusak lingkungan dan ekosistem hutan .Sedangkan yang yang meringankan bersikap sopan selama persidangan dan belum pernah dihukum.

Untuk mendengar pembelaan terdakwa, sidang dipimpin Hakim Sulhanuddin dilanjutkan Selasa mendatang.

Sebelumnya 3 saksi dari Polisi Kehutanan ( Polhut) yakni Arianto, Musriadi, Syofian dihadirkan ke persidangan.

“Kami tau dari Facebook, Hendri memberikan komentar di kolom kalau dirinya memiliki barang sisik dan lidah tringgiling,” kata Arianto.

Mendapat informasi tersebut, para anggota  Polhut itu langsung mendalami informasi dari terdakwa, dan melakukan undercover agar dapat mengamankan terdakwa.

Ketika para saksi menghubungi terdakwa, Henri mengaku mempunyai 50 kg sisik dan 15 lidah tringgiling.

“Dari Tarutung, dia mengatakan ada rencana ke Medan, dia juga menjanjikan akan membawa 19kg sisik dan 8 lidah tringgiling,” ujar Arianto.

Kemudian saat Henri datang ke Medan, mereka bertemu pada siang hari di Jalan STM depan hotel OYO.

Saat bertemu, belum sempat Henri memberikan sisik dan lidah tringgiling itu, para anggota Polhut langsung mengamankan terdakwa.

Ketika diintrogasi, terdakwa mengaku sebagai seorang pengepul tringgiling yang nantinya dikumpulkan oleh terdakwa untuk diperjualbelikan.

“Dia seorang pengepul, mengumpul tringgiling dari orang lain atau saat dia ke hutan menemukan tringgiling dikumpulkannya,” ujar Arianto.

Saat Hakim menanyakan kepada saksi mengenai berapa jumlah tringgiling yang sudah jadi korban dari terdakwa, ketiga saksi tidak mengetahui persis totalnya.

Baca ini juga :  Sopir Angkot Trayek  Binjai-Medan  Unjukrasa didepan Kantor Gubsu 

“Tidak tahu yang mulia, karena kalau tringgilingnya berukuran kecil sisiknya sedikit, semakin besar ukurannya semakin banyak sisiknya,” jawab Arianto.

Ditambahkan Musriadi, perbuatan terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal UU Nomor 5 Tahun 1990 tanggal 10 Agustus 1990, tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Menurut Arianto, walaupun populasi tringgiling masih besar, namun hewan itu ditetapkan sebagai hewan yang dilindungi karena sisiknya bisa digunakan sebagai bahan baku pembuatan narkotika jenis sabu.

“Sisiknya bisa digunakan untuk bahan baku pembuatan sabu, dan lidahnya biasa digunakan sebagai penglaris makanya harga jualnya yang tinggi dan ditetapkan sebagai hewan yang dilindungi untuk mengurangi hal yang tidak diinginkan yang mulai,” jelas Arianto kepada Majelis hakim.( lin)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here