Ketua MABMI Tebingtinggi Kunjungi Kantor IWO Sergai

0
290

SERGAI | MEDIA 24JAM
Ketua Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI) Kota Tebingtinggi, OK Khairul Aswar, yang bergelar Datuk Amar mengutarakan, dalam menggalakkan budaya dan adat Melayu, tidak saja hanya menampilkan tarian-tarian khas Melayu, namun perlunya menjaga cagar budaya dan kuburan para pemangku adat yang ada di daerah masing-masing.

Paling baiknya lagi, budaya Melayu ini bisa di masukan dalam kurikulum pelajaran untuk siswa sehingga generasi muda maupun penerus mengetahui akan sejarah Melayu tersebut.
Hal ini diungkapkannya saat mengunjungi dan sekaligus bersilaturahmi di kantor Ikatan Wartawan Online (IWO) Kabupaten Sergai, Desa Firdaus, Rabu (11/11/2020).

“Kita sangat berharap nantinya ada generasi penerus yang dapat memahami budaya Melayu dan dikhawatirkan dengan masuknya budaya luar maka adat budaya yang ada di Kabupaten Deliserdang, Sergai dan Kota Tebingtinggi bisa pudar,” ujar OK Khairul Aswar.

Ditambahkannya, Ia yang bergelar Datuk Amar memiliki wilayah khusus di Padang Deli, meliputi Kecamatan Dolok Merawan, Sipispis, Bandar Khalipah dan Kota Tebingtinggi. “Banyak sejarah Melayu yang bisa digali, namun ini perlu dukungan semua pihak pemangku adat,” tambahnya.

Nah, untuk di Kecamatan Tanjung Beringin misalnya, dahulu ada Kerajaan Padang Bedagai, namun kini yang tinggal hanya tunggul batu kerajaan tersebut. Begitu juga di Kecamatan Bandar Khalipah, menurut sejarahnya ada Pelabuhan Syahbandar.

“Masyarakat Kota Tebingtinggi yang ingin menunaikan ibadah haji, dahulunya melalui Pelabuhan Syahbandar, itu namanya Kecamatan Bandar Khalipah sekarang,” jelasnya.
Selain itu, di Kecamatan Bandar Khalipah itu ada juga kuburan Raja Pangeran Kerajaan Padang Deli yang belum lama ini telah di jiarahi oleh pemangku adat juga H.darma Wijaya dan H.Adlin Umar Tambunan.

Sementara di Kota Tebingtinggi ada juga ada namanya bangunan Istana Kerajaan Padang Deli dan bangunan Kantor Keprapatan Kerajaan yang berdiri di Kelurahan Bulian Kecamatan Tebingtinggi.

Banyak lagi sejarah Melayu ini yang harus digali dan jika pelu dibuatkan dalam rangkuman buku lalu diseminarkan sehingga banyak orang nantinya bisa mempelajari budaya Melayu ini.

Jika melirik dari sejarah dahulunya, Kerajaan Padang di Tebing Tinggi meliputi sebelah Timur dengan Kabupaten Asahan, sebelah Barat dengan Bedagai, sebelah Selatan dengan Kabupaten Simalungun dan sebelah Utara dengan Selat Malaka yang juga Kabupaten Deliserdang.

Kerajaan Padang ini merupakan sejarah budaya Melayu di Tebingtinggi terdiri 4 Kecamatan sebagaimana dijelaskan tadi. Setiap Kecamatan diperintah oleh seorang Asisten Wedana yang sekarang disebut Camat.

Jika dibuka sejarah di masa Pemerintahan Belanda, kewedanan disebut Difdeling Padang Bedagai yang ada di dalam Afdeling Deliserdang. Afdeling Deliserdang saat itu berkedudukan di Medan, Istana Maimun yang diperintah oleh Asisten Residen dan onder afdeling Padang dan Bedagai termasuk Kerajaan Deli.

“Menurut legenda naskah tua pustaka dari Zuriyat Kerajaan Padang Tebingtinggi yang ditulis dengan aksara arab berbahasa Melayu, asal-usul berdirinya Kerajaan Padang, bercerita bahwa keturunan raja di dalam negeri Padang yakni turunan dari hulu raya pada zaman dahulu adalah Raja Batak Raya namanya Raja Gukguk, dia pergi berburu pelanduk ke hutan, karena istrinya sedang hamil dan mengidam ingin memakan pelanduk, maka pergilah Raja Gukguk bersama orang kepercayaan kerajaan dan masyarakatnya membawa anjing buruannya,” kata Datuk Amar mengutip dari penjelasan Tengku Nurdinsyah Al Haj atau bergelar Tengku Maharaja Bongsu Negeri Padang ke XIII yang merupakan turunan Kerajaan Padang di Tebingtinggi. (hrp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here