3 Tahun Terlantarkan Istri Kabid PPKB Medan Dituntut 20 Bulan Penjara

0
576

PN MEDAN, (media24jam.com) – Kepala Bidang (Kabid) di Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) Pemko Medan, Dr. Iman Surya terdakwa kasus melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), yang menelantarkan istrinya selama 3 tahun terdiam dituntut Jaksa Penuntut Umum (JPU) Nurhayati Ulfia selama 20 bulan penjara.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam nota tuntutannya, menyebutkan terdakwa Dr Iman terbukti bersalah, melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), yang menelantarkan istrinya selama 3 tahun dan melanggar Pasal 49 huruf (a) UU RI No 23 tahun 2004 Tentang Penghapusan KDRT.

“Meminta kepada majelis hakim yang menyidangkan, menuntut terdakwa Dr Iman Surya selama 1 tahun 8 bulan penjara,” ucap Jaksa Nurhayati Ulfia, di ruang Cakra 6 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (29/01/2020) sore.

Dalam pertimbangan Jaksa Penuntut Umum (JPU), menyatakan hal memberatkan terdakwa karena telah merugikan korban dan terdakwa merupakan PNS.

“Sedangkan hal yang meringankan terdakwa karena belum pernah dihukum sopan selama mengikuti persidangan serta menyesalai perbuatannya,” ucap JPU Nurhayati Ulfia.
Menanggapi tuntutan tersebut, terdakwa Dr. Iman melalui penasihat hukumnya Ismail SH mengatakan akan menuangkan pada nota pembelaan minggu depan.

Usai pembacaan tuntutan, majelis hakim yang diketuai Erintuah Damanik SH MH, menunda sidang hingga pekan depan, dengan agenda pembelaan (pledoi) terdakwa.

Diketahui sebelumnya, dari dakwaan JPU Nurhayati Ulfia kasus berawal pada 10 Juli 2010, saksi korban menikah dengan terdakwa dan menetap di Jalan STM Kelurahan Suka Maju, Kecamatan Medan Johor. Selama perkawinannya dengan terdakwa, saksi korban Tapi Sari Nasution belum dikaruniai anak.

Selama berumah tangga, semua kebutuhan dipenuhi oleh terdakwa yang bertanggung-jawab penuh memenuhi lahir dan batin saksi korban.

Selain itu, terdakwa juga memenuhi uang belanja sejak menikah sampai tahun 2012, kepada saksi korban sebesar Rp2,5 juta per bulan.
Dan sekira tahun 2013-2014, terdakwa masih memberikan uang belanja kepada saksi korban sebesar Rp3,7-4,8 juta. Serta pada awal tahun 2015 sampai dengan Juli 2016, terdakwa memberikan uang rutin saksi korban sebesar Rp 4,2 juta.

Kemudian pada Desember 2015, terdakwa meninggalkan rumah, namun terdakwa masih memberikan nafkah kepada saksi korban sebesar Rp 4,2 juta. Setelah itu, terdakwa tidak pernah memberikan nafkah kepada saksi korban. (lin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here