Ancam Putus Aliran Listrik, Petugas P2TL Rayon Medan Baru Sering 86, Pungli Pelanggan Rp2 Juta-Rp3 Juta

0
1242

MEDAN, (media24jam.com) – Warga Kecamatan Medan Baru resah. Keresahan itu disebabkan karena maraknya praktik pungutan liar (pungli) disertai ancaman pemutusan aliran listrik yang diduga dilakukan oknum-oknum petugas Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL) Rayon Medan Baru.

Praktik pungli disertai ancaman pemutusan aliran listrik tersebut bahkan nyaris berujung ricuh. Seperti yang terjadi baru-baru ini di sekitaran Jalan Sei Deli, Kelurahan Silalas, Kecamatan Medan Baru, yang terekam kamera warga dan tersebar kepada wartawan, Rabu (27/8/2019).

Dalam video itu terlihat jelas, warga yang akan diputus aliran listrik di rumahnya serta disebut-sebut dimintai sejumlah uang agar pemutusan tersebut tidak dilakukan marah-marah dan mengejar dua oknum petugas PLN Rayon Medan Baru, Joko yang mengenakan kemeja merah dan Amrizal (kemeja lengan panjang warna putih). Pemilik rumah yang mengenakan celana pendek warna merah tampak berupaya mengejar Joko dan Amrizal, namun dilerai sejumlah tetangganya dan seorang tentara. Karena tak berhasil mengejar Joko dan Amrizal, pemilik rumah pun mengumpat keduanya.

Tak jauh berbeda dengan perempuan yang disebut-sebut merupakan istri pemilik rumah. Perempuan yang mengenakan daster itu juga sempat mengambil sapu untuk mengusir kedua oknum petugas P2TL PLN Rayon Medan Baru tersebut.

Terkait hal itu, David, warga sekitar kepada wartawan, menyebutkan dugaan pungli disertai ancaman pemutusan aliran listrik terhadap warga bukan kali ini saja.

“Ini yang namanya Joko pakai baju merah. Dia dan rekannya, Amrizal menganjurkan ke pelanggan untuk damai di tempat alias 86. Dibilang orang itu kepada warga, kalau ada orang PLN datang, bilang aja nama orang itu,” kata David.

Ancaman pemutusan dan aksi 86 keduanya itu, sambung David, tidak hanya dikakukan terhadap pelanggan yang menunggak uang listrik tapi juga pelanggan yang mencuri aliran listrik.

“Tiap bulan mereka datang mengutip. Ini sudah jalan dua bulan mereka kutip. Biasanya, pertama diancam diputus, kalau gak mau mesti bayar Rp5 juta. Mohon-mohonlah pelanggan itu supaya tak diputus, minta kuranglah biayanya. Jadinya Rp2 juta sampai Rp3 juta. Itu satu hari berapa titik (rumah pelanggan)? Kalau sampai dua atau tiga rumah saja, udah berapa dapat orang itu (Joko dan Amrizal) uangnya? Biasanya naik mobil macam Avanza gitu. Satu mobil empat sampai lima orang. Kira-kira udah sampai lima rumah atau 10 rumahlah yang,” bebernya.

Lanjut David lagi, apa yang dilakukan kedua oknum petugas P2TL PLN Rayon Medan Baru tersebut sudah tidak sesuai dengan motto PLN, “No Suap”.

“Ini sudah tidak sesuai dengan motto PLN, No Suap. Tapi di lapangan, petugas P2TL Medan Baru, Joko dan Amrizal menganjurkan pelanggan supaya damai di tempat atau 86,” sebutnya.

Maka dari itu, David dan warga lainnya memjnta kepada pimpinan PLN Wilayah Sumut untuk menindak tegas oknum-oknum petugas P2TL tersebut.

“Kepada Bapak Pimpinan PLN wilayah Sumut tolong ditertibkan petugas P2TL di Medan Baru yang bernama Bapak Joko dan Bapak Amrijal. Kami warga berharap, sebaiknya petugas-petugas seperti itu diberhentikan saja,” tandasnya.

Terpisah, Joko, petugas P2TL PLN Medan Baru, yang dikonfirmasi wartawan via seluler, membantah tudingan atas dirinya itu. “Semua tuduhan itu tidak benar. Malah masyarakat yang coba menyogok saya banyak, tapi saya tidak mau,” bantahnya.

Saat ditanya perihal kericuhan yang nyaris terjadi di Jalan Sei Deli, Joko pun membantahnya. “Ricuh (di Jalan Sei Deli) itu bukan saya, tapi tim lain,” kilahnya. (zul)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here