Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga di Tengah Ketidakpastian Global

0
60

MEDIA24JAM, Jakarta – Stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) Indonesia dinilai tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat eskalasi tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada volatilitas pasar keuangan dan lonjakan harga energi.

Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 1 April 2026.

OJK mencatat, konflik geopolitik di kawasan Teluk telah mengganggu infrastruktur energi global, termasuk penutupan Selat Hormuz sebagai jalur distribusi utama energi dunia. Kondisi ini memicu peningkatan risiko terhadap stabilitas global serta mempersempit ruang kebijakan moneter bank sentral.

Sejumlah indikator global juga menunjukkan tekanan, termasuk perekonomian Amerika Serikat yang cenderung melemah di tengah inflasi tinggi dan meningkatnya pengangguran. Sementara itu, Tiongkok masih mencatat pertumbuhan di atas ekspektasi meskipun menurunkan target ekonominya.

Di dalam negeri, kondisi ekonomi tetap relatif solid. Inflasi inti menurun, konsumsi masyarakat tetap kuat, serta kinerja sektor riil masih positif yang tercermin dari PMI manufaktur yang ekspansif. Selain itu, cadangan devisa tetap memadai dan neraca perdagangan mencatat surplus.

Dari sisi pasar keuangan, pergerakan pasar saham domestik sepanjang Maret 2026 mengalami tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 7.048,22 atau terkoreksi 14,42 persen secara bulanan dan 18,49 persen secara year to date (ytd).

Tekanan juga terjadi di pasar obligasi, di mana yield Surat Berharga Negara (SBN) meningkat seiring naiknya persepsi risiko global. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih baik di pasar saham maupun obligasi.

Meski demikian, jumlah investor pasar modal terus meningkat. Hingga Maret 2026, jumlah investor mencapai 24,74 juta atau tumbuh 21,51 persen secara ytd.

Di sektor perbankan, kinerja intermediasi tetap tumbuh positif. Kredit per Februari 2026 meningkat 9,37 persen secara tahunan menjadi Rp8.559 triliun, dengan pertumbuhan tertinggi pada kredit investasi.

Likuiditas perbankan juga terjaga dengan rasio yang berada di atas ambang batas, serta permodalan yang kuat tercermin dari Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 25,83 persen. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (NPL) tetap terkendali di level 2,17 persen.

Pada sektor asuransi dan dana pensiun, total aset industri asuransi mencapai Rp1.219,35 triliun atau tumbuh 6,80 persen secara tahunan. Adapun aset dana pensiun meningkat 12,52 persen menjadi Rp1.700,93 triliun.

Di sektor pembiayaan, pertumbuhan masih terbatas dengan kenaikan 1,01 persen secara tahunan. Namun, profil risiko tetap terjaga dengan rasio pembiayaan bermasalah (NPF) yang stabil.

Sementara itu, pada sektor inovasi teknologi keuangan, jumlah konsumen aset kripto terus meningkat menjadi 21,07 juta. Meski nilai transaksi mengalami penurunan, kepercayaan masyarakat terhadap ekosistem keuangan digital dinilai masih terjaga.

Dalam menjaga stabilitas sistem keuangan, OJK terus memperkuat kebijakan antisipatif, termasuk mendorong penguatan manajemen risiko di lembaga jasa keuangan serta menjaga likuiditas dan permodalan.

Selain itu, OJK bersama Bursa Efek Indonesia dan Kustodian Sentral Efek Indonesia juga telah menuntaskan empat agenda reformasi transparansi pasar modal, antara lain penyediaan data kepemilikan saham, implementasi High Shareholding Concentration (HSC), serta peningkatan batas minimum free float.

Di sisi pelindungan konsumen, OJK mencatat telah menerima lebih dari 147 ribu layanan masyarakat sejak awal 2026, termasuk lebih dari 21 ribu pengaduan. OJK juga terus memberantas aktivitas keuangan ilegal, termasuk menghentikan ratusan entitas pinjaman online ilegal.

OJK menegaskan akan terus memantau perkembangan global dan domestik serta mengambil langkah kebijakan yang diperlukan guna menjaga stabilitas sektor jasa keuangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

(Agung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here