Ternyata Begini Kronologi Begal Beraksi di Angkot Morina 81, Penumpang Wanita Berani Melawan Hingga Terluka

0
51

MEDAN | Media24jam.com — Aksi perampokan yang terjadi di dalam angkutan kota (angkot) Morina 81 bernomor polisi BK 1191 UC di Jalan KL Yos Sudarso, Kelurahan Mabar, Kecamatan Medan Deli, Selasa (7/4/2026), menyisakan trauma mendalam bagi para korban.

Pagi itu, suasana yang seharusnya menjadi rutinitas biasa berubah menjadi mencekam. Di dalam angkot, para penumpang yang tak saling mengenal harus menghadapi detik-detik menegangkan saat seorang pria tiba-tiba berubah menjadi pelaku kejahatan.

Tiga perempuan menjadi korban dalam kejadian tersebut, yakni Julia Pratiwi, Erika Hasibuan, dan Novianti Tampubolon. Dua di antaranya kehilangan tiga unit handphone, sementara Novianti harus menanggung luka-luka setelah nekat melompat dari angkot yang melaju kencang demi menyelamatkan diri.

Julia Pratiwi menuturkan, saat itu ia baru saja menaiki angkot dari Simpang Kota Bangun untuk berangkat kerja. Di dalam kendaraan terdapat lima penumpang—tiga pria dan dua perempuan—hingga kemudian satu pria turun, menyisakan situasi yang tanpa disadari menjadi awal petaka.

“Tidak lama setelah itu, pelaku langsung beraksi,” ujar Julia dengan suara bergetar, Rabu (8/4/2026).

Ketegangan memuncak ketika pelaku mengeluarkan senjata tajam dari balik pinggangnya. Dengan wajah dingin dan topi putih menutupi sebagian kepalanya, ia mengancam sopir agar terus melaju dengan kecepatan tinggi.

“Sopir diancam, disuruh ngebut. Kami semua panik, tidak tahu harus berbuat apa,” kenangnya.

Satu per satu penumpang menjadi sasaran. Seorang perempuan yang duduk di dekat pintu tak kuasa menahan rasa takut dan langsung menyerahkan handphonenya. Namun, di tengah ketakutan itu, muncul keberanian yang tak terduga.

Seorang penumpang wanita lainnya mencoba melawan. Ia berteriak dan berusaha mempertahankan barangnya. Aksi nekat itu sempat memicu perkelahian di dalam angkot yang terus melaju.

“Dia sempat melawan, teriak… suasana makin kacau. Tapi akhirnya dia terdorong ke arah pintu. Handphonenya tidak jadi diambil,” tutur Julia.

Di tengah kekacauan, seorang pria penumpang lain memilih jalan berisiko—melompat keluar dari angkot. Julia yang saat itu berada dalam ancaman parang, akhirnya menyerahkan handphonenya demi keselamatan nyawa.

“Saya sudah diancam pakai parang. Setelah saya kasih handphone, saya langsung lompat bersama bapak itu. Angkot masih ngebut saat kami melompat,” katanya.

Lompatan itu menyelamatkan mereka, namun bukan tanpa konsekuensi. Julia mengalami luka-luka dan terkilir di bagian kaki. Rasa sakit fisik bercampur dengan trauma yang masih membekas.

Peristiwa ini telah dilaporkan ke pihak kepolisian dengan nomor LP/B/326/IV/2026/SPKT/Polsek Medan Labuhan.

“Katanya angkotnya sudah ditemukan di Amplas. Tapi sopir dan pelakunya belum ada kabar,” ungkap Julia penuh harap.

Kini, para korban hanya bisa berharap keadilan segera ditegakkan, dan pelaku dapat segera ditangkap, agar tak ada lagi penumpang lain yang harus mengalami ketakutan serupa di perjalanan mereka.(*).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here