MEDAN (Media24jam.com) — Di tengah menjamurnya bisnis kopi kekinian di Kota Medan, sosok seperti Syahri Agustin menjadi bagian penting dari rantai penjualan yang jarang disorot: pedagang kopi keliling. Hampir dua tahun terakhir, pria yang akrab disapa Bang Syahri ini menggantungkan penghasilannya dengan menjajakan produk milik salah satu merek kopi lokal, Sekian Kopi Medan, dari satu titik ke titik lain.
Syahri bukan pemilik usaha. Ia bekerja untuk kedai yang berkantor di kawasan Amplas, dengan rutinitas yang sudah menjadi pola harian: berjualan sejak pagi hingga sekitar pukul dua siang di satu lokasi, lalu berpindah ke Amplas hingga pukul enam sore.
“Satu hari bisa bawa 70 sampai 80 cup,” ujarnya saat ditemui Media 24 Jam di sela aktivitas berjualannya.
Dari jumlah tersebut, tidak semua kopi selalu terjual habis. Menurut Syahri, ada hari-hari ketika ia hanya berhasil menjual sekitar 50 cup, dan sisanya dikembalikan ke pihak kedai. Sistem kerja yang ia jalani pun bukan berbasis gaji tetap, melainkan persentase dari setiap cup yang terjual, berkisar Rp1.000 hingga Rp2.000 per cup, tanpa modal yang harus ia keluarkan sendiri.
“Enggak ada modal, Bang. Bawa doang,” katanya.
Dengan skema tersebut, Syahri berjualan selama delapan hingga sepuluh jam per hari. Jika stok k
kopi habis lebih cepat dari perkiraan, misalnya sebelum sore, ia bisa mengambil tambahan (refill) untuk terus berjualan. Meski begitu, ia mengaku tidak berada di bawah pengawasan ketat dari pihak kedai selama berjualan di lapangan.
“Dipantau sih enggak, paling laporan aja,” ujarnya.
Bicara soal tantangan di tengah ramainya persaingan usaha kopi di Medan, Syahri menegaskan kunci bertahan baginya adalah menjaga konsistensi rasa dan kualitas pelayanan kepada pembeli.
“Konsisten sama rasa aja, sama pelayanan. Kasih bintang lima,” katanya sambil tersenyum.
Meski saat ini masih berperan sebagai pedagang keliling untuk usaha orang lain, Syahri menyimpan harapan untuk suatu hari membangun usahanya sendiri. Pengalamannya berjualan selama hampir dua tahun terakhir ia yakini telah memberinya cukup bekal pemahaman dasar mengenai.
Bicara soal tantangan di tengah ramainya persaingan usaha kopi di Medan, Syahri menegaskan kunci bertahan baginya adalah menjaga konsistensi rasa dan kualitas pelayanan kepada pembeli.
Konsisten sama rasa aja, sama pelayanan. Kasih bintang lima,” katanya sambil tersenyum.
Meski saat ini masih berperan sebagai pedagang keliling untuk usaha orang lain, Syahri menyimpan harapan untuk suatu hari membangun usahanya sendiri. Pengalamannya berjualan selama hampir dua tahun terakhir ia yakini telah memberinya cukup bekal pemahaman dasar mengenai seluk-beluk bisnis kopi.
“Ada sih keinginan,” ujarnya singkat menutup perbincangan.
Kisah Syahri menjadi gambaran kecil dari denyut ekonomi informal yang menggerakkan tren kopi di Kota Medan, sebuah usaha yang tumbuh bukan hanya dari kedai-kedai bermerek, tetapi juga dari langkah kaki penjaja yang setia mengelilingi jalanan kota setiap hari. (Tim)




