Doa dan Bunga untuk Jaka, Tangis Sang Ibu Mengenang Putra yang Tak Pernah Pulang

0
18

SIANTAR | MEDIA 24 JAM .COM-Langit siang di Jalan Merdeka, Kota Pematangsiantar, seakan ikut menyimpan duka. Di depan Kantor Wali Kota Pematangsiantar, Sabtu (27/6/2026), seorang ibu tak kuasa membendung air matanya saat mengenang putra tercinta yang telah pergi untuk selamanya.


Dahlia Siallagan, ibu kandung mendiang Jaka Malau, bersimpuh di lokasi tempat anaknya diduga menjadi korban pengeroyokan hingga meninggal dunia. Dengan tangan gemetar, ia menaburkan bunga dan memanjatkan doa, sementara isak tangis terus pecah di tengah suasana yang hening.


Kesedihan yang selama ini dipendam seolah tumpah di tempat itu. Sambil menatap titik yang diyakini menjadi lokasi terakhir putranya berjuang mempertahankan hidup, Dahlia meratapi nasib tragis yang menimpa Jaka.


“Teganya orang itu sama mu, anakku. Kejam kali orang itu sama mu, nak. Sakitnya kau rasakan bang, sakit kali kau ditunjangi orang itu, nak,” ucapnya lirih dengan suara bergetar.


Sudah sebulan berlalu sejak kepergian Jaka. Namun bagi Dahlia, luka itu masih terasa begitu segar. Di tengah duka yang belum juga reda, ia harus mengumpulkan kekuatan untuk terus mengawal proses hukum demi mencari keadilan bagi anak yang begitu dicintainya.


Di sela doa, Dahlia juga mengungkapkan kekecewaannya. Menurutnya, saat peristiwa itu terjadi, Jaka sempat memohon ampun kepada para pelaku. Namun di tengah keramaian warga yang berada di sekitar lokasi, tak ada yang datang memberikan pertolongan.


“Udah minta ampun anakku itu, tapi tidak dipedulikan. Begitu ramainya warga, tapi gak ada yang berani menolong anakku ini,” tuturnya sambil menyeka air mata.


Meski hati seorang ibu sulit menerima kehilangan sebesar itu, Dahlia berusaha mengikhlaskan kepergian putranya. Dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia mengucapkan doa terakhir untuk Jaka.


“Selamat jalan buat anakku, semoga diterima Tuhan. Apapun kesalahannya selama hidup, tolong dimaafkan, diampuni Tuhan,” katanya.

Suasana haru turut dirasakan keluarga dan kerabat yang hadir. Tabur bunga yang dilakukan bukan sekadar mengenang kepergian Jaka, tetapi juga menjadi simbol harapan agar keadilan dapat ditegakkan.


Sementara itu, penasihat hukum keluarga korban, Chandra Malau, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat dan pengguna jalan karena kegiatan doa bersama tersebut sempat membuat arus lalu lintas di Jalan Merdeka tersendat.


“Kami mohon maaf apabila kegiatan ini sedikit mengganggu arus lalu lintas. Kehadiran kami di sini semata-mata untuk mengenang saudara kami yang telah meninggal dunia, yang kami duga kuat menjadi korban tindakan kekerasan oleh oknum-oknum tertentu,” ujar Chandra.


Di tengah hiruk-pikuk kota, air mata Dahlia menjadi pengingat bahwa di balik sebuah perkara hukum, ada seorang ibu yang masih menunggu keadilan untuk anaknya yang telah tiada.(Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here