Fondasi Kuat untuk Hilirisasi: Menulis Masa Depan Industri Aluminium Indonesia dari Kuala Tanjung

0
2

Batu Bara, Media24Jam – Jika Indonesia ingin menulis masa depan industrinya sendiri, tintanya adalah aluminium dan penanya berada di Kuala Tanjung.

Di smelter yang berdiri sejak 1982 itu, dua visi besar kini bertemu. Visi tentang investasi yang tidak sekedar menambah tonase, dan visi tentang ekosistem yang saling menguatkan.

Direktur Keuangan Inalum, Ken Permana, menggambarkan pergeseran filosofi tersebut.

“Hilirisasi bukan sekadar tentang mengolah sumber daya, tetapi tentang bagaimana Indonesia membangun industri yang mampu menciptakan nilai tambah dari sumber dayanya sendiri,” ujarnya.

Baginya, aluminium adalah ujian kemandirian. Selama puluhan tahun kita menjual bauksit murah, lalu membeli kembali dalam bentuk mobil dan pesawat dengan harga mahal.

“Karena itu, investasi bagi INALUM bukan hanya soal menambah kapasitas produksi, melainkan investasi untuk membangun teknologi, memperkuat ekosistem industri, dan mendorong tumbuhnya industri pengguna aluminium di dalam negeri.

Kami ingin memastikan bahwa setiap investasi yang masuk ke industri aluminium memberikan dampak yang lebih luas bagi perekonomian nasional, sehingga aluminium tidak berhenti sebagai komoditas, tetapi menjadi fondasi bagi tumbuhnya industri Indonesia yang semakin kuat, mandiri, dan berdaya saing global,” lanjut Ken.

Visi fondasi itu kemudian disambung oleh Ka-Grup Pengembangan Bisnis dan Strategi, Al Jufri, dari sisi keterhubungan pasar.

Menurut Al Jufri, smelter tanpa industri pengguna ibarat jantung tanpa pembuluh darah. Ia harus terhubung.

“Hilirisasi memberikan manfaat yang jauh lebih besar ketika investasi mampu menciptakan keterhubungan dari produksi aluminium hingga kebutuhan industri di dalam negeri,” kata Al Jufri.

Lebih lanjut diucapkan Al Jufri, “Pengembangan investasi dan kemitraan strategis tidak hanya meningkatkan kapasitas dan utilisasi aset, tetapi juga memperluas pasar, meningkatkan nilai tambah produk, memperkuat efisiensi rantai pasok, serta membuka peluang tumbuhnya industri pengguna aluminium nasional.”

Jika Ken Permana bicara tentang fondasi, Al Jufri bicara tentang atapnya: sebuah ekosistem.

“Pada akhirnya, manfaat terbesar dari hilirisasi adalah terciptanya ekosistem industri yang saling menguatkan dan produk aluminium semakin banyak diolah menjadi produk bernilai tambah, mengurangi ketergantungan pada produk impor, menciptakan lapangan usaha, dan memperbesar kontribusi industri aluminium terhadap perekonomian nasional,” tutupnya.

Di lapangan, ekosistem itu sudah mulai terlihat. Syaiful Tanjung, operator smelter, kini melihat anak-anak muda dari desanya tidak lagi harus merantau menjadi TKI. Mereka bisa menjadi teknisi billet, operator alloy sheet, atau insinyur baterai mobil listrik, di tanah kelahirannya sendiri.

Itulah makna fondasi yang kuat. Bukan hanya tentang mengolah aluminium, tetapi tentang mengolah masa depan. (Dwi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here