MEDAN (media24jam.com) – Kenaikan harga hampir seluruh bahan baku membuat omzet Pak Jul, pedagang tempura di Jalan Raya Menteng, menurun. Meski biaya produksi meningkat, pedagang yang telah menjalankan usahanya selama sekitar satu tahun itu memilih tidak menaikkan harga jual karena khawatir kehilangan pelanggan.
Pak Jul mengatakan hampir seluruh bahan baku yang digunakan untuk membuat produk jualannya mengalami kenaikan harga. Beberapa di antaranya yakni tepung terigu, tepung kanji, ikan
minyak goreng, dan plastik.
“Banyak, hampir semua naik, tepung terigu naik, tepung kanjinya naik, ikannya naik, plastiknya naik, minyaknya naik, semua naik,” ujar Pak Jul.
Meski harga bahan baku mengalami kenaikan, Pak Jul mengaku tidak menaikkan harga jual produknya. Ia memilih mempertahankan harga karena khawatir dagangannya tidak laku jika harga dinaikkan, sementara pedagang lain masih menjual dengan harga yang sama.
“Enggak, takut gak jalan karena yang lain gak naikkan juga,” katanya.
Pak Jul menjual berbagai jenis makanan ringan. Produk yang paling banyak diminati pelanggan adalah nugget dan tempura isi ayam. Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau, yakni mulai dari Rp1.000 hingga Rp2.000 per biji.
Pelanggan yang membeli tempura dagangannya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua.
Kenaikan harga bahan baku yang tidak diikuti dengan kenaikan harga jual berdampak terhadap keuntungan yang diperoleh Pak Jul. Ia menyebut keuntungan yang sebelumnya dapat mencapai sekitar 40 persen kini turun menjadi sekitar 30 persen.
Di tengah kondisi tersebut, Pak Jul tetap berusaha mempertahankan kualitas bahan baku yang digunakan. Ia mengatakan ada pedagang lain yang memilih mengganti bahan, khususnya tepung, dengan kualitas yang lebih rendah untuk menekan biaya produksi.
“Kalau orang lain saya tengok mengurangi kualitas tepungnya, dia ganti, kalau saya enggak,” katanya.
Selain kenaikan harga bahan baku, sepinya pembeli juga menjadi kendala bagi usaha yang dijalankan Pak Jul. Menurutnya, ketika jumlah pembeli menurun, modal usaha menjadi tidak berputar dengan baik.
Salah satu hal yang dinilainya turut memengaruhi jumlah pembeli adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi anak sekolah. Menurut Pak Jul, anak-anak yang telah mendapatkan makanan di sekolah tidak lagi membeli jajanan setelah pulang.
“Umumnya anak sekolah dapat MBG, pulang dah gak beli lagi,” ujarnya.
Berkurangnya pembeli tersebut kemudian berdampak pada omzet penjualan. Pak Jul mengatakan omzet yang sebelumnya mencapai sekitar Rp400 ribu kini menurun menjadi sekitar Rp300 ribu bahkan Rp 250 ribu.
Dulu omzet saya 400, sekarang tinggal 300 atau 250. Pengaruh kali,” pungkasnya. (Tim)




