MEDAN (media24jam.com) – Penjualan bunga hidup milik Adelia di sekitar Universitas Negeri Medan (Unimed) masih berjalan lancar dengan rata-rata sekitar 50 tangkai terjual setiap hari. Penjualan biasanya mengalami peningkatan saat momen wisuda, karena mahasiswa menjadi salah satu pembeli bunga.
Adelia telah menjalankan usaha bunga hidup tersebut sejak 2022. Selama berjualan, ia menyediakan berbagai jenis bunga yang dapat dipilih pelanggan sesuai kebutuhan, mulai dari bunga pikok, krisan, gompi, padi-padi, gerbera hingga mawar.
“Bunga pikok, bunga krisan, gompi, padi-padi, gerbera, mawar gitu,” ujar Adelia.
Meskipun jumlah penjualan dapat berbeda setiap harinya, Adelia menyebut kondisi usahanya saat ini masih tergolong lancar. Rata-rata sekitar 50 tangkai bunga terjual dalam satu hari.
“Alhamdulillah lagi lancar sih kak,” katanya.
Harga bunga yang ditawarkan juga cukup beragam. Bunga dijual mula Rp 5.000 hingga yang paling tinggi hingga sekitar Rp 90.000.tergantung hingga jenis bunga yang di pilih pelanggan. Adelia menyebutkan,perubahan harga bunga juga relatif jarang terjadi “jarang terjadi kak,” katanya.
Kelancaran penjualan tersebut salah satunya terlihat ketika memasuki momen wisuda. Pada waktu tersebut, bunga menjadi salah satu pilihan mahasiswa untuk diberikan kepada teman atau orang terdekat sebagai bentuk ucapan selamat atas kelulusan.
“Iya pas hari wisuda kak,” ujarnya.
Lokasi usaha yang berada dekat dengan Unimed turut membuat mahasiswa menjadi salah satu kelompok pembeli. Selain mahasiswa, bunga yang dijual juga dibeli oleh pelanggan lainnya sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
“Mahasiswa Unimed juga sih kak karena kita dekat Unimed kan,” jelas Adelia.
Namun, penjualan bunga hidup juga memiliki tantangan tersendiri. Berbeda dengan barang yang dapat disimpan dalam waktu lama, bunga memiliki daya tahan yang terbatas. Apabila tidak segera terjual, bunga dapat mengalami kelayuan dan menurunkan kualitasnya.
“Kalau misal gak laku kan layu dia kak,” tuturnya.
Untuk mempertahankan kesegaran bunga, Adelia melakukan perawatan secara rutin. Air tempat bunga harus diganti setiap hari. Ia juga menggunakan kaporit dalam proses perawatannya.
“Cuma pakai kaporit doang dia kak,” katanya.
Dengan perawatan tersebut, bunga dapat bertahan hingga sekitar satu minggu. Penggantian air setiap hari menjadi salah satu cara yang dilakukan agar bunga tetap segar dan memiliki daya tarik ketika ditawarkan kepada pembeli.
“Harus ganti airnya tiap hari dia, paling lama nanti bisa bertahan seminggu doang sih dia kak,” ungkapnya.
Meski terdapat risiko bunga layu ketika tidak terjual, kondisi penjualan yang masih lancar dan meningkatnya permintaan pada momen wisuda menjadi peluang bagi Adelia untuk terus menjalankan usaha tersebut.
Ke depan, Adelia berharap usaha bunga hidup yang telah dijalankannya selama beberapa tahun dapat semakin berkembang. Ia berharap dapat memperluas usahanya dengan membuka cabang baru.
“Semoga bisa buka cabang gitu kak,” pungkas Adelia. (Magang)




