MEDAN | Media24jam.com – Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, menekankan pentingnya keselarasan peran perempuan di ranah rumah tangga dan ruang publik. Menurutnya, diperlukan “jembatan” agar kedua peran tersebut dapat dipahami dan dijalankan secara seimbang.
Hal itu disampaikan Bobby dalam sambutannya pada peringatan Hari Kartini melalui seminar bertajuk “Saatnya Perempuan Bicara” yang digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (PPPAKB) di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumut, Medan, Jumat (24/4/2026).
Sejumlah pejabat turut hadir, di antaranya Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi, Staf Ahli I TP PKK Sumut Titiek Sugiharti, Anggota Komisi VIII DPR RI Muhammad Husni, serta Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumut Rudy Brando Hutabarat.
Dalam sambutannya, Bobby mengapresiasi kehadiran Menteri PPPA yang sebelumnya meninjau lokasi pengungsian korban bencana hidrometeorologi di Sumut. Ia menilai perhatian tersebut menjadi inspirasi, khususnya bagi kaum perempuan.
“Selamat datang dan membersamai kegiatan kami di Sumut dalam memperingati Hari Kartini. Kami tidak menyangka respons Ibu Menteri sangat luar biasa,” ujarnya.
Bobby juga menyoroti masih rendahnya keterlibatan perempuan dalam jabatan publik, terutama pada posisi strategis pengambilan keputusan. Ia menyebut masih terdapat kabupaten/kota di Sumut yang belum memiliki keterwakilan perempuan di lembaga legislatif.
“Di DPRD Sumut memang ketuanya perempuan, tetapi secara komposisi masih kecil. Bahkan ada daerah yang belum memiliki anggota dewan perempuan sama sekali,” jelasnya.
Ia menambahkan, saat ini hanya Kabupaten Labuhanbatu yang dipimpin kepala daerah perempuan, meskipun di beberapa daerah lain terdapat wakil kepala daerah perempuan. Melalui forum seperti seminar ini, Bobby berharap partisipasi perempuan di ruang publik terus meningkat.
Berdasarkan data yang disampaikannya, jumlah penduduk Sumatera Utara mencapai 15,7 juta jiwa, dengan sekitar 7,8 juta di antaranya perempuan atau 49 persen. Dari jumlah tersebut, sekitar 5,8 juta berada dalam usia produktif.
“Ini adalah potensi besar yang akan menjadi penerus kepemimpinan di Sumut,” katanya.
Bobby menegaskan, perempuan tidak perlu ragu untuk berperan ganda selama mampu menjaga keseimbangan antara tanggung jawab domestik dan aktivitas publik.
“Tidak perlu ada batas yang kaku. Perempuan bisa menjadi ibu rumah tangga sekaligus aktif di ruang publik,” tambahnya.
Sementara itu, Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi mengungkapkan, sepanjang 2025 tercatat 35.131 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia, dengan jumlah korban mencapai 37.372 orang. Lebih dari 30 ribu korban di antaranya adalah perempuan.
“Angka ini meningkat signifikan, namun juga menunjukkan bahwa perempuan mulai berani melapor. Ini perkembangan positif, meski tetap menjadi perhatian serius,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa peningkatan laporan harus direspons dengan langkah pencegahan yang lebih kuat, termasuk melalui edukasi dan forum publik.
“Seminar seperti ini merupakan bagian dari upaya pencegahan, dengan mendorong kesadaran masyarakat untuk melindungi perempuan dan anak dari kekerasan,” pungkasnya.(ril)




