MEDAN (media24jam.com) -Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provsu, terus mendorong dilakukannya percepatan rehabilitasi jaringan irigasi dI Javakolonisasi (PHTC-5B) di Kabupaten Simalungun.
Pembangunan proyek irigasi ini langsung ditinjaolu oleh Plt. Kepala Dinas Sumber Daya Air Sumut, Gibson Panjaitan, Kamis (27/8) kelokasi. Proyek yang berada di daerah Rambung Merah Kabupaten Simalungun ini diharapkan akan meningkatkan hasil pertanian padi.
Pemerhati sosial dan pembangunan di Sumut M Abdi Siahaan, sangat mengapresiasi langkah yang dilakukan Pemprovsu melalui Dinas SDA ini.
Abdi Siahaan yang akrab disapa Wak Genk ini meminta pelaksana menambah personel dan mengejar progres tanpa mengabaikan kualitas.
“Kecepatan pembangunan harus dibarengi mutu. Mengingat Infrastruktur ini untuk jangka panjang bagi keberlangsungan hidup petani,” katanya.
Rehabilitasi ini mencakup saluran primer, bangunan terjun, penggalian sedimen, dan perbaikan pintu air. Kepada wartawan, Gibson Panjaitan juga memgatakan bahwa hingga kini progres pekerjaan telah mencapai 6,2 persen.
Proyek ini sangat dinantikan oleh masyarakat, karena akan melayani seluas ±842 hektare lahan pertanian. Dengan adanya irigasi yang optimal tentu sangat berkaitan erat dengan potensi produksi padi yang ditargetkan mencapai 7 ton per hektare untuk setiap kali panen.
Selama ini menurut Wak Genk, petani di wilayah tersebut terkendala distribusi air akibat saluran yang rusak dan sedimentasi. Kondisi itu membuat masa tanam sering tertunda dan hasil panen menurun.
Dengan selesainya proyek ini, menurut Wak Genk, diyakini akan meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan di Simalungun dan Sumatera Utara.
Disampaikan, seluas 842 hektare lahan tersebut bukan hanya sekedar angka. Di dalamnya ada sawah, petani dan harapan besar untuk swasembada pangan daerah.
Wak Genk, aktivis yang giat memantau pembangunan di daerah ini menyebutkan, dengan adanya pembangunan proyek irigasi ini, akan membuat warga meningkat ekonominya melalui pertanian.
“Jadi keluhan para petani soal air selama ini akhirnya terjawab. Plt. Kadis SDA Sumut, Gibson Panjaitan yang sudah datang meninjau langsung ke area. Di depan alat berat dan tumpukan sedimen, ia memberi pesan: kejar waktu, ” ujar Wak Genk.
Setelah rehabilitasi selesai, diharapkan dengan luas 842 hektare sawah di daerah itu, akan kembali mendapat air. Potensinya jika masa panen tiba bisa mencapai 7 ton gabah per hektare.
Bayangkan, dengan 842 hektare luas sawah dikali 7 ton, Itu hasilnya setelah di proses menjadi beras dapat menghidupi ribuan keluarga.
Saat ini pekerjaan baru 6,2%. Masih ada saluran primer yang harus dibenahi, bangunan terjun yang retak, dan pintu air yang harus diganti. Tapi untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, petani melihat ada harapan nyata.
“Infrastruktur irigasi yang baik itu sederhana: airnya sampai. Kalau air sampai, kami yang kerja,” ujar salah satu petani.
Dengan seluas 842 hektare persawahan milik masyarakat petani. Di dalamnya ada lumpur, keringat, doa, dan masa depan pangan Sumatera Utara.(fas)




