Rumapea Tewas Dikeroyok Karena Beda Pilihan Kades, Satu Tersangka Awalnya Melerai

0
507

SAMOSIR, (media24jam.com) – Hanya karena berbeda pilihan Calon Kepala Desa, Sundung Rumapea (51) dikeroyok hingga meregang nyawa. Ironis, pelaku tak lain adalah saudara semarga ‘Appara’ yakni, Dorlan Rumapea dan Lamboi Rumapea.

Kasus pembunuhan yang dilakukan saudara semarga itu terungkap setelah Polres Samosir menggelar rekontruksi, Selasa (12/11/2019) siang.

Kasus tersebut berawal dari Dorlan Rumapea dan Lamboi Rumapea terlibat perkelahian dengan korban Sundung Rumapea di warung tuak di Nainggolan, Samosir, Jumat 23 Agustus 2019 pada jam 19.00 wib.

Gelar rekonstruksi disaksikan warga dan dipimpin Kasat Reskrim Polres Samosir AKP Jonser Banjar Nahor. Saat gelar rekon, dihadirkan empat saksi. Antara lain, Deddy Lumban Tungkup, Lameria Rumapea, Pandir Rumapea dan Jamanat Sinaga.

Kasus pembunuhan ini berawal dari terjadinya cekcok antara pelaku dengan korban di warung tuak di Nainggolan, Samosir, pada Jumat (23/8/2019) lalu tepatnya jam 19.00 wib hingga jam 22.00 wib.

Lokasi kedai tuak tepatnya di Silanjang Huta Rihit, Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir. Korban dan pelaku, yaitu Dorlan Rumapea, Lamboi Rumapea, dan Sundung Rumapea sama-sama minum tuak di warung Lameria Rumapea. Kemudian Jamana Sinaga tiba di warung tuak lalu duduk dan memesan teh manis.

Kemudian Sundung Rumapea (korban) bertanya ke Jamana Sinaga; “Songon na mabbosseng ho anggia (seperti membonceng kau dik).” “Ah, na manumpang do nakkinani sian dalanan bang (ah, yang menumpangnya tadi dari jalan sana bang),” jawab Jamana Sinaga.

Kemudian Sundung Rumapea (korban) kembali Berkata; “Ai sahat ma taruhon hu huta dabah.” (Iya sampailah kamu antar ke kampungnya).” Jamana Sinaga kembali menjawab tidak sampai ke kampung karena jalan menanjak.

“Na aha do rencanamu, ai ditaruhon ho pe i asa boi do hu ide mi (kamu antar pun itu, biar bisanya sama dengan tujuan pilhanmu/kepala desa),”sebut Sundung menimpali.
Jamana menjawab; “Daong, isena olo bah olo.” (tidak, siapa yang mau ya maulah”.
Kemudian Dorlan Rumapea menimpali Sundung Rumapea (korban); “Ai ho sude disukkuni ho bang. (kau, semuanya kau tanyai bang),”ujar Dorlan.
Lalu, Sundung Rumapea menjawab; “Ai ido nian politik on, dang niantusan. Ai ho tu si Pak Penty do huroa ho.” (itulah politik ini, tidak kita tau itu, kamu juga Pak Penty-nya
kamu pilih?).

Lantas Dorlan Rumapea menjawab; “Ai ho pintor dipositifhon ho do (Ah kamu, langsung kau pastikan pilihan orang,” jawab Dorlan.

Kemudian Sundung Rumapea mengatakan; “Ai hu dolokan ma hita, si Hot Tua Lumban Toruan (ke yang di atas sana lah kita, si Hot Tua Lumban Toruan).”

Dorlan Rumapea kembali menjawab; “Ai hita bereng ma jo, godang nai tikki” (kita lihat nanti lah, masih panjang waktu)”.

Sundung Rumapea pun menjawab; “Ai ho dang tarbahas ho” (kalau kamu tidak bisa ditebak pilihanmu).

Kemudian Jamana Sinaga mengatakan; “Ai aha be huroa manggarap nuaeng, ai keluarga do hita sude dohot calon on, nungga malo-malo be jolmai mamilit, jadi molo boi minta tolong au, unang pola hita hatai bei molo lagi minum tuak hita (buat apa lah mengajak, kita semua ini keluarganya, sudah pintar-pintar orang-órang memilih, jadi kalau bisa
minta tolong lah saya, jangan kita bahas itu kalau lagi minum tuak kita),” ujar Jamana.

Selanjutnya, sekira jam 20.00 wib saksi Jamana Sinaga membayarkan uang minum kepada pemilik warung Lameria Rumapea. “Na tuhor ni tes hon ito (ini uang teh manis aku kakak),”
Jamana pun pamit pulang dan mengatakan, “minum be hamu na dah, mulak nama
au” (minum lah kalian ia, pulanglah aku),”sebutnya, lalu meninggalkan warung Lameria.

Selanjutnya jam 21.55 wib saksi Pandir Rumapea juga ikut pulang dan meninggalkan warung. Pada jam 22.00 wib, Lameria Rumapea pun mengajurkan kepada Dorlan Rumapea, Lamboi Rumapea, juga korban Sundung Rumapea agar pulang.

“Mulak ma hamu, nungga siang be udan (pulanglah kalian, sudah redah hujan)”,anjur Lameria.
Pada saat itu Tersangka Lamboi Rumapea juga mengajak Dorlan Rumapea meninggalkan warublng. “Eta ma mulak uda (Ayok pulang pak uda,”sebutnya mengajak Dorlan.

Saat yang sama korban Sundung Rumapea mengatakan; “Nungga boi tutu hita mulak (iya lah, sudah bisa kita pulang),” sahut Sundung. Dorlan Rumapea pun mendatangi Lameria dan membayarkan uang pembelian tuaknya diikuti Lameria langsung mengambili gelas kotor dari meja yang berada di warung.

Korban Sundung Rumapea langsung mendatangi tersangka Dorlan Rumapea sambil mengatakan; “Ai ho Pak Arjuna molo minum mangkatai dang tabo perasaan (kamu Pak Arjuna, kalau sudah ngobrol saat minum tidak enak perasaan saya)”, sebutnya.

Dorlan Rumapea menjawab; “dang na hu dokkon au na jago manang na
par politik (bukan aku bilang, aku yang hebat dalam politik ini) dan saat itu juga korban Sundung Rumapea langsung mencekik badan dan mendorong Dorlan Rumapea.

Kemudian saat itu tersangka Lamboi Rumapea langsung menahan tersangka Dorlan Hutapea.
Dorlan tetap berjalan ke luar dari dalam warung. Namun, Sundung Rumapea langsung menendang pinggang Tersangka Dorlan Rumapea dari belakang sampai terjatuh dan terlentang di jalan.

Sundung Rumapea kembali mendatangi Dorlan yang tergeletak di jalan. Lamboi Rumapea pun berupaya menghalangi korban Sundung dengan cara membentangkan kedua tangannya di pintu warung sambil mengatakan, “marsogot ma muse hita hatai mulak ma hita” (besok lah lagi kita ngobrol, pulang lah kita),” anjur tersangka Lamboi.

Tidak perduli, Sundung justru menarik tersangka Lamboi Rumapea sehingga mengenai meja yang berada didalam warung. Saat itu juga korban Sundung langsung mendatangi Dorlan posisi terjatuh dijalan.

Lalu, korban Sundung memijak kepala dan memukuli wajah tersangka Dorlan Rumapea.
Melihat korban Sundung Rumapea memijak kepala dan memukuli wajah tersangka Dorlan, saat itu juga tersangka Lamboi Rumapea keluar dari dalam warung dan mendatangi korban Sundung dan tersangka Dorlan yang berada di jalan.

Kemudian tersangka Lamboi langsung menarik korban Sundung, akan tetapi saat itu Sundung tetap memukuli tersangka Dorlan. Dan kemudian tersangka Lamboi kembalí menarik korban Sundung sehingga saat itu juga korban menghentikan pukulannya ke tersangka Dorlan.
Setelah korban Sundung menghentikan pukulannya, tersangka Dorlan langsung berdiri. Tapi saat itu tersangka Lamboi langsung memukul leher korban sebannyak dua kali dengan kepalan tangannya.

Korban Sundung pun terjatuh telungkup di halaman Puskesmas Pembantu Desa Hutarihit, dengan posisi wajah korban korban Sundung mengenai genangan air yang berlumpur. Ketika Korban Sundung posisi terjatuh telungkup, Dorlan langsung mendatangi Korban dan menduduki punggung Korban sambil menahan kepala korban yang wajahnya tergenang air dengan menggunakan tangan kiri tersangka Dorlan sambil memukuli kepala belakang Sundung.

Saat tersangka Dorlan memukuli kepala Sundung, saat itu tersangka Lamboi mengatakan, “nungga sae be uda, beta ma mulak (sudah selesai lah itu bapak uda, ayok lah pulang),” ajaknya. Akan tetapi saat itu tersangka Dorlan tidak menjawab dan masih tetap memukuli kepala bagian belakang Sundung

Dikarenakan tersangka Dorlan masih tetap memukuli kepala bagian belakang korban, saat itu tersangka Lamboi berjalan meninggalkan tersangka Dorlan.

Tapi tak lama kemudian, Lamboi kembali mendatangi Dorlan yang masih memukuli Sundung.
Kemudian Lamboi menarik leher baju tersangka Dorlan dan mengatakan, “nungga sae bei, beta ma mulak”(Sudah lah itu, ayolah pulang), sehingga saat itu tersangka Dorlan berhenti memukuli Sundung yang tidak lagi bergerak.

Kemudian Dorlan berdiri dan meninggalkan Korban di lokasi dengan posisi telungkup. Mereka pergi ke rumah Dorlan.

Jonser Banjarnahor mengatakan, terhadap tersangka dikenakan pasal 338 subs pasal 170 ayat 2 yaitu penganiayaan secara yang mengakibatkan hilangnya nyawa. (ok)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here