MEDAN | MEDIA 24 JAM.COM — Duka mendalam keluarga Reza Valentino Simamora (21) belum juga reda. Setelah kehilangan anak tercinta akibat kecelakaan kerja tragis di perairan Korea Selatan, kini luka itu kembali teriris saat barang-barang pribadi korban tiba di rumah dalam kondisi mencurigakan.
Tangis pilu sang ibu, Tetty Herawati Napitupulu (42), pecah seketika saat menerima koper milik anaknya di kediaman mereka di Jalan Dame, Kecamatan Medan Amplas, Rabu (15/4/2026).
Namun, bukan hanya kesedihan yang dirasakan. Kecurigaan dan kemarahan ikut menyelimuti keluarga setelah mendapati koper tersebut sudah dalam keadaan terbuka dan pembungkusnya rusak.
Ayah korban, Saut Tarulitua Simamora, dengan nada geram mengungkapkan adanya sejumlah barang penting yang hilang dari dalam koper.
“Dua handphone anak saya tidak ada! Padahal saat diserahkan temannya ke KBRI di Korea masih lengkap. Ini jelas ada yang tidak beres,” tegas Saut.
Tak hanya dua unit ponsel merek Samsung dan Redmi, paspor serta sejumlah pakaian kerja milik korban juga dilaporkan raib. Saut bahkan menduga kuat koper tersebut telah dibongkar sebelum sampai ke tangan keluarga.
“Ini sudah diacak-acak! Saya tidak terima. Dirjen terkait harus bertanggung jawab. Saya akan laporkan ke Komnas HAM, Ombudsman, bahkan Presiden!” ancamnya.
Reza sendiri diketahui tewas tragis pada 23 September 2025 saat bekerja di kapal penangkap ikan di perairan lepas Korea Selatan. Kakinya terlilit tali sling hingga terlempar ke laut dan tenggelam.
Jenazahnya baru ditemukan empat hari kemudian, dengan luka di bagian dada.
Meski telah dimakamkan sejak Oktober 2025, polemik justru terus berlanjut. Selain persoalan barang hilang, hak asuransi dan sisa gaji korban hingga kini belum juga diterima pihak keluarga.
“Sisa gaji dari tanggal 1 sampai 23 September belum dibayar. Asuransi juga tidak jelas. Ini terlalu lama, kami curiga ada permainan,” ujar Saut.
Sementara itu, pihak Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sumatera Utara mengaku hanya bertugas mengantarkan barang dan akan membantu menelusuri dugaan kehilangan tersebut.
Perwakilan BP3MI, Enceng Supiyanto, menjelaskan bahwa pengiriman barang sempat terkendala karena dikirim melalui jalur laut dari Semarang.
“Barang baru sampai dua hari lalu dan langsung kami antar ke keluarga. Soal kondisi koper, itu sudah seperti yang kami terima,” jelasnya.
Senada, staf BP3MI lainnya, Riansah Manalu, memastikan pihaknya akan melakukan penelusuran lebih lanjut.
“Kalau memang ada barang yang hilang, akan kami koordinasikan dengan pihak kargo dan KBRI untuk memastikan isi awalnya,” katanya.
Kasus ini kini menjadi sorotan, bukan hanya karena tragedi kematian pekerja migran, tetapi juga dugaan kelalaian hingga kemungkinan adanya praktik tidak bertanggung jawab dalam proses pengiriman barang korban.(*/lin)




